Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Batik Sumedang

Posted by KAK DOTO Selasa, 11 Juni 2013 0 komentar

Sumedang lebih dikenal dengan kota tahu, yaitu tahu sumedang. Padahal kota yang berada di Provinsi Jawa Barat ini juga memiliki sumber daya manusia yang cukup unggul di bidangnya masing-masing. Awalnya, Sumedang bukanlah daerah yang memiliki tradisi membatik. Seiring perkembangan dan pertautan budaya, serta kreatifitas warganya maka munculah batik di Sumedang pada pertengahan tahun 90-an. Namun pada tahun 2004, usaha Batik Sumedang mulai mengalami penyusutan dan juga kerugian. Terutama setelah populernya tekstil bercorak batik. Masuknya tekstil bercorak batik mengubah konstelasi batik kesumedangan pun hilang dari pasaran.
Batik Sumedang namanya memang tak seterkenal nama-nama batik di daerah Jawa Barat lainnya seperti batik Cirebon, batik Garut, dan lain-lain. Saat ini memang sedikit sulit untuk menemukan batik Sumedang karena pengrajinnya sudah semakin jarang ditemukan. Batik khas Sumedang yang digali dari warisan budaya yang hidup di Sumedang menjadi ciri dari batik khas Sumedang.

Batik Sumedang Motif Mahkota Binokasih
Batik Sumedang Motif Mahkota Binokasih
Sumber: http://batiksaca.blogspot.com
Batik Sumedang juga disebut dengan Kasumedangan dan memiliki pola ceplokan. Batik Kasumedangan, adalah salah satu contoh warisan asli budaya yang merupakan simbol Kerajaan Sumedang, yang memiliki ciri khas budaya yang melambangkan keluhuran nilai Budaya Sunda, namun karena kurangnya perhatian dan bantuan dari Pemerintah Daerah akhirnya kini Batik Kasumedangan sudah dianggap mati suri.
Batik Sumedang Motif Kereta Nagapaksi
Batik Sumedang Motif Kereta Nagapaksi
Sumber: http://batiksaca.blogspot.com
Ragam hias batik Kasumedangan mendapat pengaruh dari Yogya, Solo, Cirebon dan daerah lainnya. Ragam khiasnya memiliki kekhususan, yakni mengacu pada konsisi sosial-ekonomi, geografis dan budaya masyarakat Sumedang itu sendiri. Ragam hias batik Kasumedangan terispirasi dari benda bersejarah dan kondisi lingkungan setempat. Adapun motif-motif batik khas Sumedang seperti motif lingga, daun boled, hanjuang, klowongan tahu, mahkota (siger) binokasih, motif kuda renggong, pintu srimangganti, dan lain sebagainya. Semua motif tersebut terinspirasi dari sejarah kerajaan yang pernah ada di Sumedang, Geusan Ulun.
Batik Sumedang Motif Lingga
Batik Sumedang Motif Lingga
Sumber: http://balareabatikjabar.org
Motif Kuda Renggong. Kuda renggong merupakan salah satu atraksi wisata yang sangat terkenal di Kabupaten Sumedang.
Batik Sumedang Motif Kuda Renggong
Batik Sumedang Motif Kuda Renggong
Sumber: http://batiksaca.blogspot.com
Motif Daun Boled. Boled adalah salah satu produk unggulan Kabupaten Sumedang yang terkenal dengan hui Cilembunya. Daun boled yang merambat sangat cantik sekali.
Batik Sumedang Motif Daun Boled
Batik Sumedang Motif Daun Boled
Sumber: http://batiksaca.blogspot.com
Sentra batik khas Sumedang terdapat di Desa Cimasuk, Kecamatan Pamulihan Kabupaten Sumedang.
Sejak dicanangkannya Sumedang sebagai “Puseur Budaya Sunda”, semestinya Batik Sumedang mendapatkan tempat perhatian yang lebih. Batik Sumedang susah berkembang karena persoalan klasik, yaitu permodalan dan regenerasi pembatik. Karena sekarang generasi muda nampaknya kurang ataupun tidak meminati dalam pembuatan batik. Hal itu sebenarnya tidak harus terjadi jika Pemda mau peduli dengan cara memberikan penyuluhan dan pelatihan kepada masyarakat untuk membuat produksi rumahan sehingga dengan sendirinya akan dapat meningkatkan taraf penghasilan masyarakat. Sebagai salah satu usaha nyata dari Pemerintah Daerah, seharusnya Bupati mengeluarkan Surat Instruksi kepada Dinas terkait, untuk memberikan program pendidikan atau pelatihan untuk masyarakat umum dan menginstruksikan untuk membuat program kejuruan di SMK atau program ekstra kulikuler dari mulai tingkat SD, SMP dan SMA, supaya cara pembuatan batik tersebut dikenal oleh masyarakat maupun anak-anak sekolah. Untuk merangsang kreatifitas masyarakat dan anak-anak didik, setiap tahunnya dapat diadakan lomba mendesain motif batik yang terinspirasi dari budaya asli daerah Sumedang.
Semoga bermanfaat.
Batik Sumedang Motif Kuda Renggong dan Mahkota Binokasih
Batik Sumedang Motif Kuda Renggong dan Mahkota Binokasih
Sumber: http://batiksaca.blogspot.com

Baca Selengkapnya ....

Batik Banten

Posted by KAK DOTO Senin, 10 Juni 2013 0 komentar
Kota Banten terletak di ujung barat pulau Jawa, Banten merupakan provinsi pecahan dari provinsi Jawa Barat sejak tahun 2000. Banten memiliki salah satu kerajinan yang bersumber dari kearifan lokal yaitu berupa kain Batik Banten. Sebagian orang mungkin belum mengetahui jika di Banten terdapat batik. Sejarah Batik Banten, tak akan lepas dari peninggalan kerajaan Banten.
Beberapa tahun terakhir batik Banten menjadi pembicaraan karena baru diketahui bahwa ternyata masyarakat Banten sudah mempunyai tradisi membatik sejak abad 17, dimana kala itu dikenal yang namanya selimut batik atau Simbut. Sejak masa kejayaan Banten berakhir, tradisi ini pun tidak lagi dilanjutkan. Batik Banten mulai dikembangkan lagi pada tahun 2002, ketika seorang arkeolog menemukan peninggalan Kerajaan Banten yang kemudian diteliti. Arkeolog tersebut ingin memperkenalkan ragam hias yang di dapat selama penelitian arkeologi di situs Banten Lama. Dari hasil penelitian tersebut, ditemukan lebih kurang 75 ragam hias. Untuk lebih memperkenalkan ragam hias tersebut, dipilihlah media batik sebagai sarana yang paling mudah untuk memasyarakat. Sampai sekarang ini, sudah lebih dari 50 ragam hias yang dituangkan dalam bentuk kain batik, bahkan 12 diantaranya telah dipatenkan di tahun 2003.
Batik Banten memiliki tampilan warna yang sangat meriah, gabungan dari warna warna pastel yang berkesan ceria namun juga lembut. Sangat cocok dalam menggambarkan karakter orang Banten yang memiliki semangat tinggi, cita-cita tinggi, karakter yang ekspresif namun tetap rendah hati. Paduan warna tersebut dipengaruhi oleh air tanah, yang dalam proses pencelupan, mereduksi warna-warna terang menjadi warna pastel karena kandungan yang ada di dalamnya.
Batik Banten pun muncul sebagai salah satu batik yang mempunyai ciri khas dan keunikan yang berbeda dari batik lain yang selama ini dikenal. Motif Batik Banten merupakan rekonstruksi dari pola hias gerabah dan keramik lokal peninggalan Keraton Kesultanan Banten. Pola hias ini sudah ditetapkan dan merupakan pola khas Banten. Motif Batik Banten banyak mengandung filosofi yang berasal dari toponim yang diambil dari nama tempat, bangunan, maupun ruang dari situs Banten Lama dan juga dari nama gelar di masa Kesultanan Banten. Motif yang mengambil nama tempat diantaranya adalah Pamaranggen, Pancaniti, Pasepen, Pajantren, Singayaksa, Pasulaman, Datulaya, Srimanganti, dan Surosowan.
Motif Singayaksa, motif ini diambil dari nama tempat Sultan Hasanuddin sholat Istikharah memohon petunjuk Allah dalam mendirikan keraton.
Batik Banten Motif Singayaksa
Batik Banten Motif Singayaksa
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif Pancaniti, diambil dari nama tempat di mana Sultan Maulana Hasanuddin menyaksikan para prajuritnya berlatih dilapangan.
Batik Banten Motif Pancaniti
Batik Banten Motif Pancaniti
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif Pamaranggen adalah nama tempat dimana para pengrajin keris dan asesoris keris dilingkungan kasultanan Banten.
Batik Banten Motif Pamaranggen
Batik Banten Motif Pamaranggen
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif Pasepen adalah nama tempat tata ruang istana tempat Sultan Maulana Hasanuddin melakukan meditasi di Kesultanan Banten.
Batik Banten Motif Pasepen
Batik Banten Motif Pasepen
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif Pejantren adalah motif ini terinspirasi dari nama tempat di mana para pengrajin tenun di wilayah Banten.
Batik Banten Motif Pejantren
Batik Banten Motif Pejantren
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif Surosowan adalah nama tempat atau ruang menghadap raja atau Sultan Kesultanan Banten.
Batik Banten Motif Surosowan
Batik Banten Motif Surosowan
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif Datulaya yaitu tempat tinggal atau tata ruang keluarga di Kesultanan Banten. Motif ini memiliki dasar belah ketupat berbentuk bunga dan lingkaran dalam figura sulur-sulur daun. Warna yang digunakan, motif dasar berwarna biru, variasi motif pada figura sulur-sulur daun berwarna abu-abu. Nama datulaya ini diambil dari tempat tinggal Sultan Maulana Hasanuddin. Datu itu artinya pangeran, laya artinya tempat tinggal. Batik Banten juga ada yang berwarna dasar abu-abu agak lembut menunjukkan simbol watak orang Banten yang keras tapi sederhana, memiliki cita-cita tinggi dan disegani.
Batik Banten Motif Datulaya
Batik Banten Motif Datulaya
Sumber: http://batikindonesia.com
Batik Banten Motif Datulaya
Sumber: http://sosbud.kompasiana.com
Motif yang mengambil nama gelar diantaranya Sabakingking (gelar dari Sultan Maulana Hasanudin), Kawangsan (nama gelar yang diberikan kepada Pangeran Wangsa dalam penyebaran agama Islam), Kapurban (nama gelar yang diberikan kepada pangeran Purba dalam penyebaran agama Islam), Mandalikan (berhubungan dengan Pangeran Mandalika).
Batik Banten Motif Kapurban
Batik Banten Motif Kapurban
Sumber: http://www.motifbatik.web.id
Penggunaan batik banten sekarang ini sudah mulai memasyarakat, terutama penggunaan di kota Serang. Beberapa sekolah sekarang ini sudah menggunakan batik banten untuk seragam sekolah. Ragam hias bangunan artefak Banten Lama yang dijadikan motif batik tersebut kini juga kembali digunakan dalam ragam hias bangunan Masjid Agung di Kawasan Pusat Pemerintahan Propinsi Banten.
Tahukan Sahabat Fitinline, jika Batik Banten merupakan batik pertama yang memiliki hak paten di UNESCO bahkan predikat terbaik sedunia. Pada tahun 2003, motif Batik Banten dipatenkan setelah adanya kajian di Malaysia dan Singapura yang diikuti 62 negara seluruh dunia. Batik Banten telah mengalami proses panjang hingga akhirnya diakui di seluruh dunia. Batik Banten memiliki identitas tell story (motifnya bercerita) memiliki khas tersendiri, karena beberapa motifnya diadopsi dari benda-benda sejarah (artefak). Inilah tatanan aset yang menjadi ciri khas Batik Banten tersebut. Batik Banten sudah masuk di kancah internasional, bukan karena bentuk dan tatanananya saja, melainkan juga ciri khas yang dimiliki. Semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....

Batik Demak

Posted by KAK DOTO 1 komentar

Kota Demak merupakan wilayah pesisir dan wilayah pertanian dengan menjunjung tinggi nilai Islam. Demak dikenal sebagai Kota Wali. Demak dulu pernah berjaya dengan Kerajaan Islam Pertama di Tanah Jawa yang didirikan oleh Raden Patah. Sebagai wilayah pesisir, Demak dulunya memiliki pelabuhan dagang yang sering disinggahi pedagang dari berbagai daerah di Nusantara maupun dari negara lain. Demak banyak mendapat pengaruh kebudayaan, misalnya saja batik. Batik Demak lahir enam abad silam, namun lama-kelamaan seakan menghilang seiring perpindahan Kasultanan Demak Bintoro ke Pajang.
Dahulu, sekitar tahun 1920-an, terdapat jenis Batik Demak dengan sebutan batik sisik yang menjadi usaha rumahan yang cukup menonjol di Demak. Sentra usaha terbesar di Kecamatan Wedung. Tapi sudah lama kegiatan ini mati, karena tak ada warga yang meneruskannya. Padahal, batik sisik pernah mengangkat nama Demak, setara dengan Kudus dengan jenangnya, Jepara dengan ukirannya, atau Semarang dengan lumpianya. Pada dasarnya, batik sisik khas Demak tidak tercabik dari akarnya yaitu batik pesisiran pantura.
Sekitar tahun 2006, Batik Demak mulai dirintis kembali di wilayah pesisiran dengan motif yang sangat khas, yaitu perpaduan motif pesisiran dan pertanian serta terdapat perpaduan corak Majapahit dengan nilai-nilai Islam. Tujuannya untuk mengenalkan kembali berbagai macam corak atau motif khas Demak kepada para pencinta batik. Motif atau corak yang digambarkan pada Batik Demak terinspirasi dari sejarah Kerajaan Demak dan menonjolkan motif pesisiran. Misalnya, ornamen yang terdapat di Masjid Agung Demak, diantaranya gambar bledeg (petir), burung phoenix, dan bulus selain itu ada juga motif buah, seperti belimbin, jambu, dan semangka tegalan. Dengan perpaduan motif pesisiran dan pertanian, ciri khas batik tulis Demak semakin berbeda dengan batik dari daerah lain. Motif batik ini tidak hanya bicara soal sejarah dan kekayaan alam, tetapi juga memadukan motif klasik dengan motif batik kontemporer.
Batik Demak Motif Semangka Tegalan
Batik Demak Motif Semangka Tegalan
Sumber: http://batik-khasdemak.blogspot.com
Proses pembatikan masih dilakukan dengan teknik batik tulis. Pewarnaan pada Batik Demak sebagian besar masih menggunakan bahan pewarna alami seperti dedaunan, meski ada juga yang menggunakan pewarna sintetis.
Masing-masing motif memiliki makna filosofis. Motif bledeg misalnya, membawa pesan cukup mendalam. Yakni, meredam perangai keras. Saat mengenakan batik bledeg ini, perangai pemakainya diharapkan menjadi lembut dan santun.
Ada pula pola Masjid Agung, yang dipadu dengan motif bunga krisan. Motif masjid itu dibuat dalam pola besar. Motif ini menonjolkan bentuk masjid yang dipadu kekayaan alam Demak.
Batik Demak Motif Masjid Agung Demak
Batik Demak Motif Masjid Agung Demak
Sumber: http://hariansemarangbanget.blogspot.com
Motif burung Phoenix atau motif burung Hong yang di dalamnya memiliki nilai keindahan sekaligus kegagahan juga menjunjung tinggi sebuah prestasi, kebajikan, dan keabadian. Burung Phoenix cukup dikenal di negeri Tiongkok. Burung ini memiliki keindahan warna dan corak pada bulunya. Keindahan juga tampak dibagian bentuk tubuhnya yang gagah. Motif batik berlambang burung phoenix ini juga dikenal sebagai motif Lok Can. Kalau menginginkan aura kebajikan maka sering-seringlah mengenakan batik bermotif Lok Can.
Batik Demak Motif Burung Phoenix
Batik Demak Motif Burung Phoenix
Sumber: http://education-shofianahapsari.blogspot.com
Motif belimbing dan jambu merupakan buah yang menjadi ciri khas dari kota Demak bahkan sebagi ikon Demak. Keberadaan buah belimbing yang populer sejak zaman Sunan Kalijaga dengan tembang Ilir-ilirnya. Terdapat juga Batik pesisir Kabupaten Demak mengangkat kombinasi ceplok bunga dan sulur-sulur. Ideal untuk dikenakan sehari-hari karena hanya dengan membalik lembaran kain, dapat diperoleh dua gaya, satu untuk pagi satunya lagi untuk sore. Kain bermotif pagi-sore disiasati untuk memiliki motif latar, motif tepi, warna dan isi yang bernuansa ganda agar dalam satu hari dapat dua kali diapakai dengan tampilan berbeda.
Batik Demak Motif Pagi Sore
Batik Demak Motif Pagi Sore
Sumber: http://tonyantique.blogspot.com
Ada pula motif ulam segaran, tigo rangsik, sabet rangsik, semangka tegalan dan cupit kepiting. Istilah Rangsik yaitu dari kata urang (udang), kerang dan sisik. Penyederhanaan nama serta bentuk binatang laut untuk lebih memperlihatkan ciri batik pesisiran. Sedangkan motif semangka tegalan terinspirasi oleh buah semangka yang juga menjadi andalan Demak.
Batik Demak Motif Ulam Segaran
Batik Demak Motif Ulam Segaran
Sumber: http://batik-khasdemak.blogspot.com
Motif lainnya berupa motif Caos Dhahar. Caos Dhahar adalah nasi tumpeng, namun isinya terdiri dari ingkung, lele, ayam bakar, dan daun pace yang dibuat trancak mirip seperti rawon. Motif tersebut terinspirasi dari makanan khas pada jaman sunan Kalijaga. Ada juga motif daun pace, Loro Gendhing, dan Cening yaitu bunga kemuning yang digabung dengan daun pace (kemuning merupakan tanaman yang memiliki bunga harum dan indah yang hingga kini masih banyak dijumpai di kompleks Makam Sunan Kalijaga).
Pengerajin Batik Demak tersebar di beberapa wilayah Demak, di antaranya Desa Wedung, Desa Karangmlati, Desa Wedung, Dempet, Bonang, Kauman, Kelurahan Mangunjiwan, Kelurahan Bintoro dan Kelurahan Kadilangu.
Upaya untuk mengembangkan Batik Demak oleh Pemkab setempat yaitu dijadikannya seragam khas para pegawai Pemkab dengan menggunakan motif sekar jagad Demak Bintoro, yaitu motif yang memadukan pola jambu, belimbing berpadu garis pantai. Diadakannya pameran, bazar tiap minggu di alun-alun, juga dijadikan ajang promosi. Sejumlah sekolah juga menjadikan baju batik bagian seragam guru dan siswa sehari dalam sepekan.
Mari kita cintai budaya Indonesia dengan mengoleksi batik dari berbagai daerah, salah satunya Batik Demak. Semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....

Batik Kudus

Posted by KAK DOTO Minggu, 09 Juni 2013 3 komentar

Setelah artikel sebelumnya membahas tentang Batik Jepara, kali ini kami masih sajikan artikel tentang batik di Jawa tengah, yaitu Batik Kudus. Kota Kudus terkenal dengan sebutan Kota Kretek, karena terdapat pabrik rokok terbesar di Indonesia yaitu Djarum. Kota Kudus juga terkenal dengan wisata religinya yaitu Sunan Kudus yang identik dengan menara Kudus dan juga Sunan Muria. Bagi anda pecinta kuliner, anda pasti kenal dengan soto Kudus dan jenang Kudus yang sangat khas. Sebagian orang mungkin belum banyak yang tau jika kota ini juga menghasilkan batik yang unik dan menarik. Batik tersebut dinamai Batik Kudus atau Batik Kudusan.
Pada era tahun 1935 Batik Kudus sudah mulai ada dan berkembang pesat pada era 1970an. Corak dan motif Batik Kudus sangat beragam karena pada masa itu pengrajin Batik Kudus ada yang dari etnis keturunan Cina dan pengrajin penduduk asli atau pribumi. Batik Kudus coraknya lebih condong ke batik pesisiran ada kemiripan dengan Batik Pekalongan maupun Lasem karena secara geografis Kudus berdekatan. Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin Cina dikenal dengan batik nyonya atau batik saudagaran, yang mempunyai ciri khas kehalusan dan kerumitannya dengan isen-isennya. Dan kebanyakan dipakai oleh kalangan menengah ke atas, motif yang dibuat coraknya lebih ke arah perpaduan antara batik pesisir dan batik mataraman (warna sogan).
Pembatik yang terkenal era itu di Kudus adalah GS Liem, TS Ing dan Pho An Nyo. Batik Kudus tersalip oleh daerah lain, seperti Pekalongan, Tegal, Solo, dan Yogyakarta, karena persaingan lokal yang sangat ketat antara pengusaha batik pribumi dengan pengusaha batik keturunan Tionghoa. Pada era 1980-an Batik Kudus mengalami kemunduran karena sudah tidak ada pengrajin yang berproduksi lagi karena adanya perkembangan batik printing maka pengrajin batik Kudus banyak yang gulung tikar dan akhirnya masyarakat Kudus lebih senang bekerja sebagai buruh pabrik rokok karena banyaknya industri rokok di Kudus. Wajar jika rentang waktu sekitar 20 tahun Batik Kudus seperti tak ada. Bahkan banyak orang tak yakin Kudus punya tradisi batik. Hanya generasi tua dan pecinta batik yang mengetehui sejarah Batik Kudus.
Batik Kudus yang dibuat oleh pengrajin asli Kudus atau pribumi dipengaruhi oleh budaya sekitar dan coraknya juga dipengaruhi batik pesisiran. Motif yang dibuat mempunyai arti ataupun kegunaan misalnya untuk acara akad nikah ada corak Kudusan seperti busana kelir, burung merak dan adapula motif yang bernafaskan budaya Islam atau motif Islamik kaligrafi. Motif yang bernafaskan kaligrafi karena dipengaruhi sejarah walisongo yang berada di Kudus yaitu Sunan Kudus (Syeh Dja’far Shodiq) dan Sunan Muria (Raden Umar Said), corak yang bernafaskan Islam karena pengrajin batik banyak berkembang disekitar wilayah Sunan Kudus atau dikenal dengan Kudus Kulon.
Batik Kudus dikenal sebagai batik peranakan yang halus dengan isen-isen (isian dalam raga, pola utama) yang rumit. Batik ini didesain dengan warna-warna sogan (kecoklatan) yang diberi corak parang, tombak, atau kawung. Batik tersebut juga dihias dengan rangkaian bunga, kupu-kupu, serta ragam motif lainnya yang sesuai dengan ciri khas Kabupaten Kudus.
Salah satu motif yang juga sangat dikenal di Kudus adalah motif kapal kandas menurut sejarah yang dituturkan juru kunci Gunung Muria ada kaitan dengan sejarah kapal dampo awang milik Sampokong yang kandas di Gunung Muria, menurut sejarahnya pada masa itu terjadi perdebatan antara Sunan Muria (Raden Umar Said) dengan Sampokong. Menurut Sampokong gunung yang dilewati adalah merupakan lautan tetapi Sunan Muria keyakinan itu adalah gunung sampai akhirnya kapal Dampo Awang kandas di Gunung Muria. Kapal tersebut membawa rempah-rempah dan tanaman obat-obatan yang sampai sekarang tumbuh subur di Gunung Muria salah satunya adalah buah parijoto yang diyakini oleh masyarakat sekitar untuk acara 7 bulanan supaya anaknya bagus rupawan.
Batik Kudus Motif Kapal Kandas
Batik Kudus Motif Kapal Kandas
Sumber: http://wolipop.detik.com 
Batik Kudus Motif Kapal Kandas
Sumber: http://www.muriabatikkudus.com
Batik Kudus Motif Parijoto
Batik Kudus Motif Parijoto
Sumber: http://wolipop.detik.com 
Batik Kudus Motif Buket Parijoto
Batik Kudus Motif Buket Parijoto
Sumber: http://www.muriabatikkudus.com
Diantara tumbuhan yang ada di Gunung Muria adalah pohon Pakis Haji yang pada zaman Sunan Muria dipakai sebagai salah satu tongkat Sunan Muria dan sampai sekarang kayu pakis haji diyakini oleh masyarakat sekitar bisa mengusir hama salah satunya tikus, karena motif tersebut mempunyai alur seperti ular dan ukiran seperti kaligrafi.

Batik Kudus Motif Pakis Haji
Batik Kudus Motif Pakis Haji
Sumber: http://www.muriabatikkudus.com
Motif legenda bulusan menceritakan tentang legenda bulusan yang diperingati setiap Kupatan atau satu minggu setelah Lebaran. Cerita ini berasal dari Desa Sumber dan Desa Bulusan Kecamatan Jekulo dengan lima adegan pada motifnya. Konon menurut cerita dahulu ada seorang yang dikutuk menjadi seekor bulus (kura–kura). Untuk meramaikan tradisi ini biasanya diadakan pasar malam.
Batik Kudus Motif Legenda Bulusan
Batik Kudus Motif Legenda Bulusan
Sumber: http://www.muriabatikkudus.com
Motif Tembakau Cengkeh, terinspirasi dari kota Kudus yang merupakan kota yang terkenal dengan rokok kreteknya. Sehingga, motif tersebut menjadi salah satu ciri khas dari batik Kudus itu sendiri.
Batik Kudus Motif Tembakau Cengkeh
Batik Kudus Motif Tembakau Cengkeh
Sumber: http://wolipop.detik.com
Batik dengan corak kawung ini mempunyai makna yang melambangkan harapan agar manusia selalu ingat akan asal usulnya. Berpola bulatan yang serupa dengan buah Kawung (sejenis buah kelapa, yang terkadang juga dianggap sebagai buah kolang-kaling) yang ditata rapi secara geometris. Batik Kudus yang satu ini juga dihias dengan bunga-bunga cantik.
Batik Kudus Motif Kawung
Batik Kudus Motif Kawung
Sumber: http://wolipop.detik.com
Motif Gebyok adalah semacam partisi khas Jawa yang digunakan untuk sekat antar ruang dalam rumah. Fungsinya bukan hanya sebagai partisi, tapi juga sebagai pintu dan juga pengganti dinding. Kudus juga terkenal dengan gebyok. Jadi tak heran bila salah satu batiknya diberi motif gebyok.
Batik Kudus Motif Gebyok
Batik Kudus Motif Gebyok
Sumber: http://wolipop.detik.com
Sentra batik di Kudus terdapat di desa Karangmalang, Kecamatan Gebog. Sebelumnya, usaha bordir sudah tumbuh berkembang di desa ini sehingga dikenal sebagai sentranya usaha bordir dan konveksi.
Dorongan Pemkab, Batik Kudus hidup kembali, salah satunya, setelah Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UMKM Kabupaten Kudus membuat pelatihan membatik pada tahun 2007. Pada tahun 2010 dilakukan pelatihan lanjutan. Dinas juga memberikan bantuan sejumlah peralatan untuk membuat batik dari teknik cap sebanyak 10 buah. Dinas juga memfasilitasi berbagai pameran batik tingkat nasional dan kontak dagang di berbagai daerah. Di lain pihak, pengrajin batik merasa dorongan Pemkab belum penuh. Celah surat keputusan pemakaian seragam bagi PNS di dua hari dalam seminggu, dilihat potensial. Pa¬salnya, selain diwajibkan menggunakan seragam berupa bordir Kudus, juga diharuskan memakai batik. Sayangnya, tak disebutkan jelas baju batik merujuk Batik Kudus.
Generasi muda pun lebih memilih kerja sebagai buruh rokok, penjahit, dan membordir, karena sifatnya yang mudah. Kendala lain adalah naiknya sejumlah bahan dasar batik, berupa kain, malam, dan zat pewarna.
Batik Kudus memiliki ciri khas yang sangat berbeda dengan daerah lain, walaupun motifnya bisa sama misalnya merak, tapi latarnya akan tetap berbeda, yang paling mudah untuk membedakannya adalah beras kecernya yang halus terlihat seperti berah asli. Bentuknya unik tak sekedar ditutul memanjang. Motif merak pelataran beras wutah merupakan motif dengan isen-isen beras wutah (kecer) yang merupakan lambang kesuburan dan kemakmuran. Latar yang lain berupa latar kembang randu yang sangat cantik dan unik, karena tak dijumpai di daerah lain. Warnanya khas seperti warna hijau, ungu, biru, merah dan sogan.
Batik Kudus Motif Merak Pelataran Beras Wutah
Batik Kudus Motif Merak Pelataran Beras Wutah
Sumber: http://www.muriabatikkudus.com
Semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....

Batik Palembang

Posted by KAK DOTO 0 komentar

Artikel kali ini masih membicarakan tentang batik yang berada di daerah Sumatera. Sebelumnya pernah kita bahas tentang Batik Aceh, Batik Jambi, Batik Riau, Batik Padang, Batik Kaganga Bengkulu, Batik Besurek Bengkulu, Batik Lampung. Dan kali ini kita akan sajikan mengenai Batik Palembang.
Bagi anda yang pecinta kuliner, mengenal kota Palembang dengan makanan khasnya yaitu pempek. Sedangkan untuk anda pecinta kain Nusantara mengenal Palembang dengan keindahan kain songketnya. Selain itu, Palembang yang terletak di Provinsi Sumatera Selatan ini juga mengembangkan kerajinan batik yang mencirikhaskan Palembang pada setiap motif batiknya. Batik Palembang, dalam sejarahnya batik Palembang memang berasal dari Jawa sekitar 100 tahun yang lalu dengan motif yang telah mengalami adaptasi dengan budaya Palembang.
Batik Palembang Motif Songket
Batik Palembang Motif Songket
Sumber: http://www.kriyalea.com
Batik Palembang ini memiliki keunggulan yang tak kalah menarik dari batik lain di Indonesia. Batik Palembang memiliki motif yang mengikuti syariat Islam, yaitu tidak menggunakan gambar binatang dan manusia sebagai hiasan. Sebagian besar motif batik Palembang adalah motif bunga teh dan motif lasem yang dihiasi garis simetris dan berbagai simbol tanaman, sedangkan motif bunga teh kainnya dipenuhi dengan gambar bunga teh.
Batik Palembang Motif Lasem
Batik Palembang Motif Lasem
Sumber: http://sketsabudaya.blogspot.com
Batik Palembang Motif Bunga Teh
Batik Palembang Motif Bunga Teh
Sumber: http://rumahbatik-ifa.blogspot.com
Beberapa contoh motif batik Palembang yang lain adalah motif songket, kerak mutung, jukung, kembang jepri, sisik ikan, motif jumputan, gribik, encim, kembang bakung, sembagi, dan lain sebagainya.
Batik Palembang Motif Songket
Batik Palembang Motif Songket
Sumber: http://yundahamasah.blogspot.com
Proses pembuatannya batik Palembang sedikit berbeda dengan pembuatan batik di Jawa pada umumnya. Kalau di Jawa kain yang akan dibatik cukup disampirkan kemudian dibatik tetapi kalau Batik Palembang kainnya dibentangkan dengan kencang baru kemudian dibatik. Secara umum batik Palembang dibuat dengan dua cara, dicap dan ditulis, sama dengan teknik membatik pada umumnya. Namun saat ini juga dikembangkan batik dengan teknik printing. Batik Palembang menggunakan bahan sutra, organdi, jumputan, katun, dan blongsong. Untuk pewarnaan menggunakan warna cerah khas Melayu, seperti merah, kuning dan hijau terang.
Proses Pembuatan Batik Palembang
Proses Pembuatan Batik Palembang
Sumber: http://produsenbatik.com
Pengrajin batik Palembang saat ini masih sedikit sulit untuk ditemui. Karena itu, perlu dukungan beberapa pihak untuk tetap melestarikan seni budaya batik ini. Pihak Kesultanan Palembang berupaya melestarikan kekayaan seni dan budaya peninggalan nenek moyang mereka tersebut, tentunya dengan menggali dan mengumpulkan serta memproduksi kembali batik tulis.
Batik Palembang Motif Songket
Batik Palembang Motif Songket
Sumber: http://kacamatamakna.blogspot.com
Batik Palembang Motif Jumputan
Batik Palembang Motif Jumputan
Sumber: http://yundahamasah.blogspot.com
Lokasi pengrajin batik Palembang bisa ditemui di sepanjang Jl. Aiptu Wahab Palembang sedangkan toko-toko yang sekarang banyak menjual batik Palembang banyak tersebar di daerah Pasar 16 Ilir baru, komplek Hero, di samping Ramayana.
Batik Palembang Motif Kembang Bakung
Batik Palembang Motif Kembang Bakung
Sumber: http://songketserengamsetia.files.wordpress.com
Batik Palembang merupakan salah satu khasanah dari keragaman batik di Nusantara. Anda bisa menambahkan Batik Palembang sebagai koleksi kain maupun busana anda. Semoga bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....

Batik Jepara

Posted by KAK DOTO Selasa, 04 Juni 2013 1 komentar

Bertepatan dengan peringatan “Hari Kartini”, kami ingin mengucapkan selamat hari kartini untuk seluruh perempuan Indonesia dimanapun anda berada saat ini. Banyak cara untuk memperingati serta memaknai hari kartini ini. Diperingatinya hari kartini adalah sebuah penghormatan atas perjuangan kaum perempuan, simbol persamaan gender, emansipasi wanita. Dan cara kami memperingati hari kartini ini adalah dengan menyajikan artikel tentang “Batik Jepara”.
Jepara sebagai kota kelahiran RA. Kartini ini terletak di ujung utara pulau Jawa, tepatnya di Propinsi Jawa Tengah. Jepara lebih dikenal dengan sebutan Kota Ukir. Tak banyak yang mengetahui jika Jepara juga memiliki kerajinan berupa kain batik. Memang batik Jepara tidak berkembang pesat seperti batik dari daerah lain. Mungkin sebagian orang lebih mengetahui potensi tekstil yang lain, yaitu berupa kain tenun ikat troso.
Seni batik di Jepara telah ada sejak jaman Kartini, sehingga banyak yang menyebutnya Batik Kartini. Namun sayang sudah satu abad lebih batik Jepara hilang dari peredaran. Budaya batik di Jepara tidak lepas dari peran Kartini. Selain bisa membatik, Kartini juga mengajarkan ketrampilan membatik di Pendopo kediamannya. Tak hanya itu, beliau juga menulis tentang batik dalam Bahasa Belanda sehingga batik dikenal disana.
RA. Kartini dan Suami
RA. Kartini dan Suami
Sumber: http://id.wikipedia.org
Motif Batik Jepara yang berkembang awalnya berupa motif bunga kantil, Parang Gondosuli, dan motif Srikaton. Motif-motif tersebut bergaya Mataraman, namun berbeda dengan yang ada di Solo dan Yogyakarta yang lebih masyhur dengan istilah Srigunung. Selain itu motif lainnya berupa lung hitam sogan, flora fauna semacam gajah coklat, srikandi, kembang alas, daun ulir putih, bunga hijau dan ungu, kembang setaman, elung bimo kurdo, sido arum, dan lain sebagainya.
Batik Jepara
Batik Jepara
Sumber: http://cayurvalkyrie.blogspot.com
Batik Jepara Motif Kembang Alas
Batik Jepara Motif Kembang Alas
Sumber: http://hoedas.wordpress.com
Batik Jepara Motif Srikandi
Batik Jepara Motif Srikandi
Sumber: http://hoedas.wordpress.com
Motif Kembang Setaman berupa motif ulir yang dihiasi bunga aneka warna dan kupu-kupu, yang menggambarkan harmoni keindahan taman bunga. Motif Elung Bimo Kurdo berupa bentuk lung yang besar-besar, yang diilhami dari tokoh pewayangan Bima, serta menunjukkan karakter agung, kokoh dan wibawa Bima. Sedangkan motif Sido Arum merupakan motif yang diilhami dari motif-motif klasik yang sudah ada seperti Sido Mukti, Sido Pangkat, dan semacamnya. Motif ini mengandung pesan agar derajat pangkat bermanfaat bagi kehidupan.
Ada juga motif yang terinspirasi dari motif ukiran Jepara. Misalnya motif Parang Poro (Parang Jeporo) yang disusun miring dan berupa stilisasi ranting dan dedaunan yang saling berkaitan. Makna motif ini adalah hidup saling membutuhkan.
Batik Jepara
Batik Jepara
Sumber: http://batikjeparaku.blogspot.com
Ada pula motif baru yang khas, yakni Sekar Jagat Bumi Kartini. Motif ini terinspirasi dari motif Sekar Jagat yang sudah ada namun terdapat nuansa yang berbeda pada garis pembatasnya yang berupa stilisasi bunga melati. Harapan simboliknya, batik yang ada di Jepara ini aromanya akan menyebar ke seluruh penjuru negeri dan lebih dikenal di masyarakat.
Di Jepara sebenarnya tak ada sentra khusus batik. Ada dua desa yang warganya menggiatkan batik walaupun masih perorangan yaitu di desa Panggang dan di desa Troso. Selain membuat tenun ikat, ternyata di Troso ada beberapa warga yang membuat batik, mungkin tepatnya lebih ke pemasaran batik. Pernah kami berbincang dengan salah satu warga yang menjual Batik Jepara di kawasan tersebut, bahwa batiknya memang memiliki corak khas Jepara namun proses pembuatannya dilakukan di Pekalongan. Sehingga warna dan sedikit coraknya menyerupai batik Pekalongan. Batik di Troso Jepara memiliki perbedaan dengan batik lainnya, yaitu batik dibuat dengan dikolaborasikan dengan kain tenun troso sendiri. Di Troso juga banyak dikembangkan batik tenun cap dan batik tenun sablon yang berbahan kain lurik yang kemudian dibatik dengan teknik cap maupun sablon.
Batik Tenun Troso Jepara
Batik Tenun Troso Jepara
Sumber: http://www.kaintroso.com
Batik Tenun Sablon
Batik Tenun Sablon
Sumber: http://batikshuniyya.wordpress.com
Namun hal penting yang patut diperhatikan saat ini adalah membina generasi penerus yang memiliki perhatian terhadap batik. Peran Pemkab Jepara dengan mengupayakan pendaftaran hak cipta untuk karya batik khas Jepara suda dilakukan. Selain itu juga memperluas pengenalan batik, terutama untuk kalangan pelajar di sekolah yang khusus memberikan perhatian pada seni membatik.
Semoga artikel ini bermanfaat.

Baca Selengkapnya ....
trikmudahseo.blogspot.com support www.evafashionstore.com - Original design by Bamz | Copyright of BATIK INDONESIA.